Selain menunjukkan karakter seseorang, pakaian juga dapat mewakili mood atau suasana hati kita. Ini sebabnya ketika musim semi tiba, di negara-negara empat musim orang-orang banyak yang memakai baju berwarna cerah atau bermotif bunga-bunga. Sebaliknya, ketika musim gugur atau musim dingin pakaiannya cenderung berwarna gelap dan monokrom.
Musim Semi Telah Tiba - letsrestycle.com |
Di tempat kerja, untuk menunjukkan keseriusan juga sering kita lihat orang cenderung memakai warna yang lebih kalem, seperti hitam, putih, abu, biru tua. Apalagi kalau tempat kerjanya memang serius seperti bank atau korporasi.
Di tempat kerja yang lebih santai seperti media atau periklanan, apalagi industri kreatif, pakaiannya jauh lebih santai dan bebas. Tabrak warna adalah hal yang lumrah di sini. Mungkin juga ini mewakili tabiat para pelakunya.
Pakaian juga bisa kita gunakan sebagai simbol. Misalnya dalam pemakaman, kita memakai baju hitam atau putih sebagai tanda berduka.
Gubernur DKI Jakarta Ahok baru-baru ini juga mengenakan batik pertanda duka dalam menghadiri sidang pengadilan yang akhirnya memvonisnya dua tahun penjara. Mungkin karena dia memiliki firasat akan ditimpa hukuman itu.
![]() |
Ahok dan Batik Kelengan - detik.com |
Batik yang digunakannya adalah batik kelengan, yang konon merupakan teknik pembuatan batik tertua. Proses pewarnaannya sangat sederhana, hanya menutup permukaan kain putih dengan satu warna tergantung motif yang dibuat.
Menurut pakar batik Indra Tjahjani dari Komunitas Mbatik Yuk, seperti dilaporkan Kumparan, warna putih biru yang digunakan Ahok itu biasanya dipakai etnis Tionghoa kalau ada keluarga yang meninggal. Sedangkan keberadaan motif parang yang ada bermakna tidak pernah menyerah dan berhenti berjuang.
Mungkin Anda sebelumnya tidak pernah menyadari kenapa memilih warna baju yang dipakai. Jangan-jangan sebenarnya sangat terkait dengan suasana hati Anda?